News Update :

Popular Posts

Rumah Adat Tokayan

Rumah Adat Tokayan adalah Rumah Adat Mamuju

Tedong Bonga

Tana Toraja tak cuma terkenal dengan budaya nya, daya tarik lain yakni adanya rumah dari kerbau termahal di dunia.

Rumah Adat Mamuju

Rumah raja mamuju dibangun tanpa menggunakan paku, tetapi menggunakan pasak untuk menyatukan balok-balok kayu

Baju Adat Toraja

Pakaian adat Toraja yang telah dimodifikasi dan dikenakan oleh duta Indonesia dalam ajang Manhunt International 2011

Wisata Kali Mamuju

Kawasan objek wisata permandian alam Kali Mamuju, Sulawesi Barat mulau dipadati pengunjung saat libur panjang

Tampilkan postingan dengan label Wisata Toraja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Toraja. Tampilkan semua postingan

Sederet Potensi Wisata Tana Toraja

Selasa, 17 Januari 2012



TANA Toraja merupakan salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang terletas sekira 328 kilometer di utara kota Makassar. Sebagai daerah wisata, Tana Toraja berada pada ketinggian 300 hingga 2880 meter dari permukaan laut dengan suhu antara 16-28 derajat celcius. Tana Toraja menyimpan banyak potensi wisata yang layak dikembangkan.

Saat memasuki daerah Salubarani perbatasan Kabupaten Tana Toraja-Kabupaten Enrekang, wisatawan bisa melihat hamparan sawah menghijau, bukit kapur menjulang tinggi dengan latar pegunungan biru berkabut. Rumah tradisional berukiran unik dengan atap melandai ke atas bisa dijumpai hampir di semua wilayah ini. Tidak salah jika Tana Toraja menjadi pilihan untuk menghabiskan hari liburan.

Berikut ini beberapa potensi wisata dan budaya yang ada di Tana Toraja:

Kolam Makale

Makale adalah Ibu Kota dan pusat pemerintahan Kabupaten Tana Toraja. Di pusat kota Makale terdapat sebuah kolam besar yang di tengahnya terdapat Patung Lakipdada berukuran besar. Kolam  ini biasanya sebagai tempat bersantai bagi wisatawan sambil menikmati keindahan alam pegunungan yang bisa dilihat dari kolam Makale.

 
Tilangnga Tana Toraja

Tilangnga

Tilangga adalah sebuah permandian alam yang berbentuk kolam terletak di Kecamatan Makale Utara sekira 11 meter dari Kota Makale. Mata air yang bersumber dari pegungunan sekitarnya mengalir dari celah batu-batu kapur yang tidak pernah kering meski pada musim kemarau panjang.

Di kolam hidup belut-belut besar yang tidak membahayakan pengunjung yang berenang. Konon, menurut kepercayaan masyarakat sekitar, setiap pengunjung yang melihat keberadaan belut penghuni kolam itu akan membawa keberuntungan.

 

Sarambu Assing

Sarambu Assing terletak di bagian barat Kabupaten Tana Toraja di Kecamatan Bittuang atau sekira 35 kilometer dari kota Makale. Sarambu Assing merupakan kawasan objek wisata air terjun yang berasal dari pegunungan dan hutan yang masih asri. Wisatawan terlebih dahulu menelusuri jalan setepak di kawasan hutan pinus yang masih asri untuk sampai ke air terjun mirip air terjun Bantimurung yang ada di Kabupaten Maros.

Objek wisata Sarambu Assing juga potensi dikembangkan untuk wisata alam. Sejak air terjun Sarambu Assing dibuka untuk umum, objek wisata alam mulai ramai dikunjungi wisatawan mancanegara dan Nusantara terutama pada hari libur dan akhir pekan.

 
Hutan Pangopango

Pangopango

Pangopango terletak sekira tujuh kilometer arah selatan Kota Makale merupakan sebuah kawasan hutan tropis dengan kesejukan alam yang alami. Di atas ketinggian 1.100 meter dari permukaan laut wisatawan disajikan pemandangan alam luar biasa indahnya. Kita juga bisa melihat seluruh Kota Makale dan Kota Rantepao dari puncak Pangopango. Kawasan ini sangat potensial dikembangkan menjadi wisata alam dan agrowisata.

Lemo

Lemo terletak sekira sembilan kilometer dari arah utara Kota Makale. Objek wisata yang berada di Kecamatan Makale Utara itu terdapat kuburan batu pahat sebagai situs pemakaman bagi para kepala suku di Toraja saat itu. Didepan liang (kubur) terdapat patung (tau-tau) sebagai replika orang yang dimakamkan. Di sekitar objek wisata Lemo juga terdapat tempat pembuatan tau-tau dan kios yang menjual berbagai souvenir khas toraja.

 
Tongkonan / Rumah Adat Toraja

Rumah adat Toraja

Rumah adat Toraja berbeda dengan rumah adat di daerah lain. Atap rumah yang melandai ke atas menyerupai perahu. Keunikan lainnya dari rumah adat Toraja, bagian depan rumah terdapat deretan tanduk kerbau dan bagian dalam rumah terdapat tiga ruangan. Dinding rumah juga dihiasi dengan ukiran khas toraja.

 
Ritual Adar Ma'Badong

Ma’badong

Ma’badong merupakan tarian khas Toraja pada ritual adat rambu solo (kedukaan). Tarian ini dilakukan secara berkelompok. Para penari membentuk lingkaran sambil melantunkan nyanyian duka. Gerakan tangan dan kaki para penari disesuaikan dengan irama lagu.
(Joni Lembang/Koran SI/ftr)

Sumber : Okezone

Pangopango, Agrowisata Baru di Tana Toraja

Selasa, 10 Januari 2012



TANA Toraja mengembangkan pariwisata berbasis lingkungan. Inovasi ini menjadikan kawasan Pangopango sebagai objek wisata alam dan agro wisata.

Pangopango letaknya di perbatasan Kelurahan Sapan dan Kelurahan To’sapan Kecamatan Makale Selatan atau sekira tujuh kilometer dari Kota Makale, Ibu Kota Kabupaten Tana Toraja. Pangopango juga berada di tengah-tengah perbatasan beberapa kecamatan. Di sebelah Utara berbatasan dengan Kota Makale, sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Mengkendek, sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Bonggokaradeng dan sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Gandasil.

Pangopango merupakan kawasan hutan hujan tropis sangat pontensial dikembangkan sebagai objek wisata alam. Kesejukan alam yang masih alami mulai terasa saat memasuki kawasan Pangopango. Disamping kiri kanan jalan ditumbuhi berbagai jenis tanaman hutan yang masih asri. Sepanjang perjalanan, pengunjung bisa melihat panorama alam dengan latar pengunungan biru yang menjulang tinggi.

Di atas puncak Pangopango dengan ketinggian sekira 1.100 meter dari permukaan laut, pengunjung bisa melihat berbagai keindahan panorama alam. Hamparan sawah, bukit kapur hingga pengunungan biru yang menjulang tinggi diselimuti kabut terpampang di depan mata.

Jika cuaca cerah, wajah seluruh Kota Makale dan ¾ kota Rantepao Ibu Kota Toraja Utara terlihat jelas dari puncak Pangopango. Untuk mengembangkan potensi Pangopango sebagai objek wisata berbasis lingkungan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tana Toraja terus berbenah. Saat ini, sementara dibangun akses jalan menuju kawasan wisata Pangopango.

“Pangopango memiliki panorama alam luar biasanya indahnya. Sangat disayangkan jika potensi wisata itu tidak dimanfaatkan,” ujar bupati Tana Toraja, Theofilus Allorerung.

Selain berpotensi menjadi objek wisata alam, Pangopango juga berpotensi sebagai daerah agrowisata. Di sekitar Pangopango terdapat sumber mata air yang tidak pernah kering. Sumber mata air itu dimanfaatkan masyarakat setempat untuk minum dan pertanian didukung dengan tanah yang subur. Hasil pertanian dan perkebunan masyarakat setempat hingga saat ini belum tercemar karena belum menggunakan pestisida maupun pupuk nonorganik. Pengolahan pertanian dan perkebunan pun masih bersifat tradisional.

Rencananya, Pemkab Tana Toraja akan menjadikan kawasan Pangopango sebagai agrowisata. Setiap pengunjung yang datang berwisata di Tana Toraja bisa langsung menikmati hasil pertanian dan perkebunan dengan memetik langsung dari kebun milik masyarakat. Bahkan, di kawasan sekitar Pangopango akan dijadikan sebagai daerah percontohan tanaman markisa, tamarillo, dan wortel.

“Tahun 2012, Pemkab Tana Toraja akan menggelontorkan dana sekitar Rp2 miliar untuk menyulap Pangopango sebagai kawasan agro wisata,” tutup Theofilus.


Sumber : okezone

Upacara "Rambu Solo" Daya Tarik Tana Toraja

Sabtu, 07 Januari 2012



Upacara ritual "Rambu Solo" (pesta duka) yang di selenggarakan Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara dalam rangkaian pesta budaya dan pariwisata "Lovely December" 2011 berhasil menjadi daya tarik pariwisata Sulawesi Selatan khususnya Tana Toraja.

Menurut Kadis. Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sulsel Syuaib Malombassi di Makassar, Jumat, mengatakan, dua pesta Rambu Solo yang digelar di Tana Toraja merupakan rangkaian pesta budaya "Lovely December" pada 28-30 Desember 2011 telah membangkitkan kembali citra pariwisata Sulsel.

"Hal ini merupakan merupakan modal besar kita menyambut tahun kunjungan Sulsel (Visit South Sulawesi) 2012 untuk menjaring kunjungan wisatawan asing dan domestik," ujarnya.

Salah satu acara ritual yang digelar di Tana Toraja akhir tahun 2011 adalah perayaan Rambu Solo almarhumah Agnes Datu Sarunggalo, ibu kandung istri Bupati Sinjai Andi Rudiyanto Asapa yang dirayakan cukup meriah.

Keistimewaan acara ritual itu adalah ditampilkannya "Tedong Bonga" (kerbau belang) jenis langka Salego seharga Rp 360 juta. Kerbau Salego berumur 14 tahun untuk pertama kalinya ditampilkan sejak pesta ritual Rambu Solo digelar di Tana Toraja, kata Syuaib.

Satu pesta duka lainnya adalah keluarga AB Tandirerung yang tidak kalah meriahnya menandai pesta budaya akhir tahun Lovely December 2011 yang diselenggarakan pemerintah Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara menghabiskan dana Rp5,5 miliar.

Bupati Toraja Utara Frederik Batti Sorring mengatakan, Lovely December 2011 menyerap kunjungan 70.000 wisatawan atau naik dua kali lipat dibanding tahun lalu sebanyak 35 ribu orang.

Meningkatnya Jumlah kunjungan wisatawan tersebut menunjukkan bahwa pariwisata Toraja telah bangkit kembali setelah sempat terpuruk beberapa tahun yang lalu.

Seluruh kamar hotel di Toraja Utara dan Tana Toraja penuh. Sebanyak 1.864 kamar hotel di dua daerah itu terisi selama pelaksanaan pesta budaya dan pariwisata akhir tahun tersebut, ujar Bupati Batti Sorring.

Rangkaian pesta budaya dan pariwisata Lovely December 2011 masih berlangsung dan berakhir pada acara tutup tahun menyambut pergantian tahun yang ditandai dengan pesta kembang api di Rantepao, Toraja Utara dan Makale, Tana Toraja.


Sumber : antara news

Wisatawan ke Toraja Naik 60 Persen

Selasa, 27 Desember 2011





Pemerintah Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara optimis kunjungan wisatawan tahun ini meningkat 60 persen dibanding 2010. Peningkatan didorong event tahunan "Lovely December" yang akan digelar 27-31 Desember 2011.
Bupati Tana Toraja, Theofilus Allorerung kepada FAJAR, Jumat 23 Desember, di Ruang Pola Kantor Gubernur mengungkapkan, menjelang Lovely December 2011 arus wisatawan ke Tana Toraja dan Toraja Utara menunjukkan tren peningkatan.

"Sekarang ini hotel full booking. Penginapan untuk tamu mulai sulit didapatkan, padahal tahun lalu kondisinya tidak seperti ini. Untuk mengantisipasi kami juga sudah siapkan rumah warga," jelas bupati.

Data yang ada di Disbudpar Tana Toraja dan Toraja Utara menunjukkan, hingga November 2011 kunjungan wisatawan mencapai angka 60 ribu orang. Padahal per Juni 2011 lalu tak lebih 30.833 orang. Khusus Toraja Utara yang menjadi tuan rumah Lovely December jauh lebih besar karena memang akomodasi seperti hotel dan vila umumnya ada di daerah tersebut.

"Sebagai daerah tetangga kami siap membantu memfasilitasi. Pembukaan Lovely December berupa pesta Natal dan Kembang Api akan dimulai dari Makale lalu seremoni lainnya dilanjutkan di Rantepao," ungkap Theofilus.

Sementara itu, Bupati Toraja Utara Frederik Batti Sorring selaku ketua panitia lokal mengatakan, pihaknya siap menyambut tamu-tamu baik lokal maupun asing. Menurut dia, sebagian peserta dari kabupaten sudah ada di lokasi sembari mempersiapkan "saung" untuk tempat pameran seni dan budaya serta hasil kerajinan masing-masing daerah.

Pemerintah Toraja Utara, kata dia, bahkan menyambut Lovely December dengan meliburkan sekolah pada 29-30 Desember 2011. "Khusus hari puncak kita liburkan anak sekolah agar mereka berpartisipasi meramaikan event-event wisata," kata bupati.

Kunjungan wisatawan Toraja Utara tahun lalu meningkat dibanding 2009 berjumlah 40.295 orang. Dengan rincian, wisatawan mancanegara 20.559 orang dan wisatawan domestik 19.736 orang.

Pihaknya juga optimis target 70 ribu wisatawan akan tercapai hingga akhir 2011. Agustus hingga Desember merupakan bulan kunjungan wisatawan tertinggi ke Toraja.


Sumber : Fajar Online

Lovely December Picu Pemotongan Harga Kamar Hotel Hingga 50%

Senin, 26 Desember 2011




Potongan harga kamar besar-besaran dilakukan seluruh hotel di Toraja Utara dan Tana Toraja. Sejak memasuki bulan Desember ini discount 30-50 persen diberlakukan oleh manajemen hotel disana.

Seperti yang diungkapkan General Manager (GM) Toraja Luta Resort Hotel Christefany Sambo, Rabu (21/12/2011) kemarin. Saat ditemui kabar-toraja.com mengatakan hal tersebut sering dilakukan disetiap penghujung tahun oleh para pengelolah hotel. “Ini salah satu cara mendukung program Pemerintah  Daerah menjelang Lovely December yang merupakan agenda tahunan Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara,” ujar Christefany. Ia menambahkan pemberian Discount Hotel juga pun sangat bervariasi antara 30 sampai 50 persen sesuai dengan edaran Pemerintah Daerah ke dua Kabupaten tersebut.

Lanjut dikatakannya tingkat hunian Toraja Luta Resort sejak tanggal 1 Januari hingga bulan desember ini saat ini tingkat hunian Luta sudah penuh. Yang dilakukan dengan pemberian pelayanan ekstra.

Adapun wisatawan luar negeri yang menginap di Luta Resort kebanyakan berasal dari negara Perancis, Spanyol, Brasil, dan Jepang. Menurut GM termuda di Toraja ini menuturkan para wisatawan itu merasa aman saat melakukan wisata. Yang rata-rata lama huniannya selama 10 hari bahkan lebih.


Daerah Wisata Batupapan Diserbu Pengunjung


 
Sejak libur natal tiba, Lokasi Wisata Batupapan yang berlokasi di kelurahan padanglambe ramai dikunjungi oleh wisatawan local maupun dari daerah lain. Puncaknya terjadi pada hari minggu (25/12/11) dan senin (26/12/2011).

Dari data yang berhasil dihimpun luwuraya.com dari pengelola wisata Batupapan, pada liburan natal tahun ini jumlah wisatawan mengalami kenaikan sampai 100 persen jika dibandingkan dengan hari biasanya.

Kenaikan ini disebabkan selain adanya kegiatan yang dilakukan beberapa organisasi di lokasi wisata tersebut juga karena waktunya mendekati moment pergantian tahun.

Menurut salah seorang wisatawan, Rosita mengatakan memilih Batupapan sebagai lokasi untuk mengisi liburan natalnya karena merupakan tempat permandian yang bagus sebagai lokasi rekreasi keluarga. Namun wisatawan mengeluhkan banyaknya peminta sumbangan disepanjang jalan menuju ke lokasi wisata tersebut.

Sempitnya jalan dan tidak adanya tempat parkir membuat kemacetan diseputar lokasi wisata tersebut. Kebersihan disepanjang aliran sungai tersebut masih perlu diperhatikan terutama bagi pengunjung yang datang membawa bekal masih banyak yang membuang sampahnya di sembarang tempat.

Warga di sekitar lokasi Wisata Batupapan menyatakan bahagia dan sangat antusias dengan banyaknya wisatawan yang berkunjung ke lokasi wisata tersebut karena menambah pundi-pundi penghasilan masyarakat sekitar yang sebagian besar memanfaatkan momen liburan natal dengan berjualan di sekitar Lokasi Wisata Batupapan.


Sumber : luwuraya

Banyak Wisatawan Keluhkan Jarak Perjalanan ke Toraja




Meski menjadi sasaran wisata di Sulawesi Selatan, ternyata banyak wisatawan yang mengeluhkan jauhnya jarak yang ditempuh wisatawan menuju ke Toraja melalui akses jalan darat.

Christian misalnya, wisatawan lokal asal Surabaya ini mengaku sejak lama sudah penasaran untuk bisa berkunjung ke Tana Toraja. “Saya sudah mendapatkan informasi tentang pariwisata di Tana Toraja memalui banyak media, dan syukurlah kali ini bisa berkunjung ke Toraja, meskipun perjalanannya sangat melelahkan,” ujarnya.

Meskipun begitu, dia mengaku kelelahan itu bisa terbayarkan setelah tiba di Toraja dan menikmati panorama wisata dan budaya Toraja yang disebutkan masih asli. “Akhirnya rasa penasaran saya bisa terbayarkan juga, tetapi alangkah baiknya jika jarak perjalanan ini dipangkas agar wisatawan bisa menghabiskan waktu lebih lama di Toraja,” ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan Stefany, wisatawan mancanegara asal Prancis yang ditemui di Ranteapo, beberapa hari lalu. Menurutnya, persoalan jarak perjalanan menjadi pertimbangan bagi wisatawan sebelum memutuskan untuk berkunjung ke suatu wilayah.

“Saya sudah  pernah berkunjung ke Bali, dan menurut saya pariwisata di Tana Toraja ini tidak kalah menarik. Hanya saja, banyak wisatawan yang mempertimbangkan soal jarak antara Makassar dan Toraja yang menempuh waktu hingga delapan jam,” ujar Stefany dengan menggunakan bahasa Inggris.

Terkait keluhan wisatawan itu, Manager Hotel Misliana Rantepao Joni Kayangan  membenarkan jika pihaknya sudah sering kali menerima keluhan itu.

“Memang banyak keluhan dari tamu hotel soal jarak perjalanan ke Toraja yang sangat jauh, dan kami pengelola hotel juga sangat mengharapkan semoga bandara baru yang sementara di Bangun di wilayah Tana Toraja tepatnya di Kecamatan Mengkendek dapat segera diterealisasi pembangunannya agar para wisatawan lebih memilih Toraja untuk berwisata,” ungkap Joni.


Sumber : luwuraya
 

© Copyright Berita Toraja 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.